A knpa da puisi krawang-bekasi...????
(itu yang d tanyakan adik saya kemarin sore)
(itu yang d tanyakan adik saya kemarin sore)
Anda tau knpa puisi karawang-bekasi tercipta..???
Dalam tulisan ini InsyaAllah saya akan ulas sajarah y...
tp ma'af ja klo cma dpan y ja...
saya kan blum lahir, jd 'g twu jlas y ky apa...;)
tp ma'af ja klo cma dpan y ja...
saya kan blum lahir, jd 'g twu jlas y ky apa...;)
Semoga bermanfa'at y,,,
Puisi ini bermula dari sebuah desa kecil yang strategis, yaitu Rawagede, krawang..
pada tanggal Sembilan Desember 1947. Rawagede membara. Rawagede menangis. Rawagede berdarah. Empat Oktober 1948, Rawagede kembali berantakan. Kemudian, dari tangan si “Binatang Jalang” lahirlah sebuah puisi yang menggetarkan bahkan hingga detik ini. Karawang-Bekasi, begitu sang penyair memberi judul pada puisinya itu. Rawagede, Karawang, kini masih berdiri tegar. Puisi untuk mengenang tulang-tulang yang berserakan di Karawang-Bekasi, tulang-tulang hasil pembantaian tentara NICA Belanda
.
.
Pada di tahun 1948 lahirlah puisi "KRAWANG-BELKASI", lahir sebagai perwakilan dari jeritan, kepedihan, kesakitan, kehilangan kerabat korban, bahkan jiwa-jiwa korban itu sendiri. Lahir untuk mengenang ribuan jiwa yang melayang dan tubuh yang terkubur antara Karawang-Bekasi.
Sebagai peringatan atas peristiwa di Rawagede, sebuah monumen dibangun, Monumen Rawagede di Desa Balongsari, Karawang. Selain itu, ada beberapa gedung bersejarah terkait masa revolusi di Karawang-Bekasi seperti Gedung Joang 45 di Tambun, dan Gedung Tinggi Tambun.
Mungkin hanya segitu yang bisa di tulis,,, ;)
inilah puisi "krawang-bekasi"..
KRAWANG-BEKASI
Kami yang kini terbaring antara Krawang-Bekasi
tidak bisa teriak "Merdeka" dan angkat senjata lagi.
Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami,
terbayang kami maju dan mendegap hati ?
Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kami mati muda. Yang tinggal tulang diliputi debu.
Kenang, kenanglah kami.
Kami sudah coba apa yang kami bisa
Tapi kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan arti 4-5 ribu nyawa
Kami cuma tulang-tulang berserakan
Tapi adalah kepunyaanmu
Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan
Atau jiwa kami melayang untuk kemerdekaan kemenangan dan harapan
atau tidak untuk apa-apa,
Kami tidak tahu, kami tidak lagi bisa berkata
Kaulah sekarang yang berkata
Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika ada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kenang, kenanglah kami
Teruskan, teruskan jiwa kami
Menjaga Bung Karno
menjaga Bung Hatta
menjaga Bung Sjahrir
Kami sekarang mayat
Berikan kami arti
Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impian
Kenang, kenanglah kami
yang tinggal tulang-tulang diliputi debu
Beribu kami terbaring antara Krawang-Bekasi
(1948)
Brawidjaja,
Jilid 7, No 16,
1957
Kami yang kini terbaring antara Krawang-Bekasi
tidak bisa teriak "Merdeka" dan angkat senjata lagi.
Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami,
terbayang kami maju dan mendegap hati ?
Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kami mati muda. Yang tinggal tulang diliputi debu.
Kenang, kenanglah kami.
Kami sudah coba apa yang kami bisa
Tapi kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan arti 4-5 ribu nyawa
Kami cuma tulang-tulang berserakan
Tapi adalah kepunyaanmu
Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan
Atau jiwa kami melayang untuk kemerdekaan kemenangan dan harapan
atau tidak untuk apa-apa,
Kami tidak tahu, kami tidak lagi bisa berkata
Kaulah sekarang yang berkata
Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika ada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kenang, kenanglah kami
Teruskan, teruskan jiwa kami
Menjaga Bung Karno
menjaga Bung Hatta
menjaga Bung Sjahrir
Kami sekarang mayat
Berikan kami arti
Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impian
Kenang, kenanglah kami
yang tinggal tulang-tulang diliputi debu
Beribu kami terbaring antara Krawang-Bekasi
(1948)
Brawidjaja,
Jilid 7, No 16,
1957
Tulisan ini sebagian ane sadur di Arkeologi.web.id

0 komentar:
Posting Komentar